Proyek IPAL PT. Hansol Paper Ltd. di Kota Batam Telah 'Gagal Total' Kata Ketua Kodat86
Jakarta,koranjateng.com - Ketua Kelompok Diskusi Anti 86 (Kodat86) Cak Ta'in Komari SS menduga proyek instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) di Batam Batam telah 'gagal total. Pasalnya proyek yang dimulai pada April 2017 itu harusnya sudah rampung pada 30 Juni 2020, namun faktanya proyek tidak selesai hingga saat ini. Secara kontrak kerja tentu sudah masuk kategori wan prestasi dan bisa diputuskan sepihak oleh BP Batam.
"Proyek IPAL itu sudah molor bertahun-tahun, ini sudah masuk tahun ke lima dari deadline waktunya. BP Batam harus memberikan penjelasan secara gamblang soal ini. Sudah lebih banyak molornya dibanding waktu yang harusnya menyelesaikan pekerjaan tersebut," kata nya kepada media Rabu (26/3)
Cak Ta'in menilai proyek itu sudah seperti proyek mangkrak dan terbengkalai, tidak lagi ada aktivitas pengerjaan proyek, tapi tidak ada kejelasan apakah proyeknya sudah dinyatakan rampung atau belum. Untuk ukuran proyek daerah sekelas Batam itu sudah bisa disebut Mega proyek, karena nilainya juga cukup fantastis mencapai 50 juta USD atau setara Rp. 750 miliar (kurs 15.000/USD). Itu setara dengan pembangunan dermaga utara pelabuhan Batu Ampar yang menghabiskan Rp. 670 miliar tapi gak difungsikan atau bendungan jembatan 1 yang menelan dana Rp. 600-700 miliar tapi hingga kini juga belum difungsikan.
Proyek IPAL akan menambah catatan panjang, proyek BP Batam bernilai fantastis tapi tidak berguna atau tidak bisa digunakan. Proyek IPAL yang sudah molor hampir 5 tahun, dan sudah diaddendum BP Batam sebanyak dua kali, terakhir tahun 2021 - yang menyatakan proyek akan diselesaikan sampai tahun 2022.
"Jadi proyek IPAL ini apakah sudah masuk kategori gagal, mangkang atau bagaimana? Kalau pelaksana memang tidak bisa menyelesaikan dengan baik, mengapa tidak diputus saja kontrak nya? Sebenarnya ada apa dengan Proyek IPAL dan PT. Hansol tersebut?" tanya-nya.
Cak Ta'in menekankan pihaknya tengah menginventarisir permasalahan di lapangan, dan penghimpunan data. "Kita himpun dulu datanya. Temen-temen sedang mengerjakan itu. Baru kita lakukan kajian dulu. Kita bedah kasusnya. Apakah sudah ada potensi korupsi di dalamnya atau belum? proyek ini mungkin sudah berganti beberapa orang penanggung jawab dari BP Batam. Pejabat baru tentu akan memilih gak mau ambil resiko tanggung jawab kalau tidak jelas. Selalu kata 'mana bagianku'. Kalau sudah ada indikasi korupsi ya segera kita laporkan ke aparat penegak hukum KPK atau Kejaksaan Agung. " pungkasnya.( Team )